Mata Cakap dan Kanira XXII Ambalan Adipati Singacala dan Citaresmi


Tidak terasa tahun ajaran 2012/2013 telah tiba. Beberapa ambalan pramuka di berbagai sekolah telah bersiap untuk mengadakan kegiatan Masa Ta’aruf Calon Keluarga Ambalan Penegak (MATA CAKAP). Sudah dari jauh-jauh hari mereka telah mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari kepanitian sampai kemasan acara. Begitu pun dengan Ambalan Adipati Singacala dan Citraresmi. Tepatnya pada hari Jumat-Sabtu, 13-14 Juli 2012 ambalan yang ada pangkalan SMA N 1 Kawali mengadakan Mata Cakap dan Kanira XII. Kegiatan ini mempromosikan tentang kepramukaan dan sudah menjadi rutinitas. Peserta yang mengikuti sekitar 36 sangga yang terdiri dari 22 sangga putri dan 14 sangga putra. Satu sangga terdiri dari 9 bahkan 10 orang yang merupakan gabungan dari berbagai kelas X.

Tampak di gerbang masuk sekolah sebuah spanduk yang bertuliskan “SELAMAT DATANG PESERTA MATA CAKAP DAN KANIRA XXII AMBALAN ADIPATI SINGACALA DAN CITRARESMI GUDEP CIAMIS 07-077 07-078 PANGKALAN SMA NEGERI 1 KAWALI”. Di pinggir lapangan upacara, sebuah menara menjulang tinggi. Di sekitarnya berdiri beberapa tenda dengan warna dan ukuran yang berbeda. Peserta berlalu lalang dengan berpakaian seragam untuk mengikuti kegiatan yang sudah dijadwalkan oleh panitia. Beberapa panitia dengan seragam pramuka lengkap berada di posko sebelah perpustakaan. Mereka lah yang mengkondisikan peserta selama kegiatan berlangsung. Begitulah suasana yang kulihat ketika memasuki daerah perkemahan Mata Cakap.

Tidak jauh dari lokasi perkemahan beberapa orang sedang berkumpul sepertinya sambil menunggu rekannya yang lain. Mereka tidak berpakaian seragam pramuka lengkap melainkan mengenakan kaos bantara. Tentunya dengan ciri khas angkatannya masing-masing. Yang pasti mereka bukan panitia Mata Cakap. Ada pula yang mengenakan seragam berwarna hitam dan di belakangnya bertuliskan Satuan Purna Singa Citra. Ternyata mereka adalah alumni/purna bantara pangkalan SMA N 1 Kawali. Mereka menyempatkan dirinya untuk bisa hadir dalam acara Mata Cakap dalam memenuhi undangan Dewan Ambalan. Saya termasuk salah seorang dari mereka.

Dari beberapa purna yang hadir, sebagian dari mereka sudah tidak asing bagi ku. Namun, ada juga purna yang masih asing bagiku. Alasannya mereka belum pernah sempat bersama selama menimba ilmu di SMA.

Setelah 4 tahun berlalu, tahun ini saya berkesempatan hadir di Mata Cakap meskipun bukan jadi peserta. Saat itu pula saya teringat ketika pertama kali menjadi peserta. Selain itu, saya bisa merasakan bagaimana perjuangan saat menjadi panitia agar acara ini bisa berjalan dengan lancar dari awal sampai akhir.

Hari Pertama

Kegiatan di mulai dengan upacara pembukaan Mata Cakap dan Kanira XXII. Bapak Ishak Iskandar selaku Kakak Pembina Upacara membuka langsung acara ini. Masing-masing sangga langsung mendirikan tenda di kavling yang sudah ditentukan panitia. Beragam acara yang dilaksanakan diantaranya Baris berbaris, Penyuluhan dari kepolisian, Pentas Seni, Penyuluhan dari DKR, Api unggun dan acara yang lainnya.

Panitia memberikan kesempatan kepada purna untuk menjadi dewan juri dalam pentas seni yang dilaksanakan di ruangan Biologi. Setiap sangga akan mempertunjukkan kreasinya di hadapan purna. Beragam pentas ditampilkan dari semua sangga. Sistem penilaiannya yaitu setiap purna akan mengangkat tangan jika kreasi yang ditampilkan bagus. Satu purna yang mengangkat tangan berarti satu poin untuk sangga tersebut. Lagu “goyang gayung” dan “tinggal kenangan” menjadi trend topic. Tidak jarang aksi kocak dari peserta membuat purna melepas tawanya. Ada  beberapa lagu yang dinyanyikan membuat purna termangap-mangap seakan-akan masuk ke dalam suasana galau. Beberapa sangga baik putri maupun putra yang mendapatkan apresiasi bagus dari purna berkesempatan untuk tampil kembali di acara api unggun.

Sekitar pukul 20.00 beberapa panitia menuju halaman dalam sekolah. Tumpukan kayu dikumpulkan di hamparan rumput kering sebelah markas Singa Citra. Beberapa peserta sedang berlatih untuk penyalaan api dasa darma. Sebuah tali dari tumpukan kayu terbentang ke tiang. Tali tersebut yang akan diputuskan oleh Kakak Pembina Upacara ketika penyalaan api unggun. Begitulah suasana persiapan sebelum upacara api unggun di mulai.

Menjelang upacara api unggun, panitia dan peserta menuju lokasi. Ketika api mulai menyala, saat itu pula lagu “Api Unggun” dinyanyikan. Dilanjutkan dengan lagu “Syukur”.

Peserta akan dihibur oleh penampilan beberapa sangga yang pentas seni nya mendapatkan apresiasi bagus dari purna. Tepuk tangan peserta menambah kengahatan di malam itu. Semaikn malam suasana semakin ramai. Acara lebih menarik dengan adanya peserta yang joged mengikuti alunan musik.

Hari kedua

Acara utama pada hari kedua ini yaitu Pengenalan Lingkungan atau penjelajahan. Peserta sudah berpakaian hitam langsung berkumpul sesuai sangganya di depan posko panitia. Sebuah papan nama digantungkan di lehernya. Mereka menunggu dipanggil oleh panitia. Ketika panitia menyebut sangganya, mereka langsung menghadap ke posko. Salah seorang dari meraka, diberi selembar kertas untuk diisi selama perjalanan. Tidak lupa pula mereka harus menentukan  kontrak waktu perjalanan. Sebelum pemberangkatan, dengan semangatnya setiap sangga menampilkan yel-yel. Sebutir telur gagah (telur bertato) dititipkan kepada salah seorang dari mereka untuk dijaga selama perjalanan berlangsung. Selesainya dari perjalanan, diharapkan tidak terjadi apa-apa dengan telur tersebut. Setelah berdoa mereka langsung memulia perjalanan. Mereka akan menempuh perjalanan dengan petunjuk berwana kuning. Adapun tanda-tanda tersebut yaitu lingkaran(lurus), kotak(belok kanan), segitiga(belok kiri) dan cakra(jangan dilewati). Selama di perjalanan mereka harus melalui beberapa pos. Panitia yang bertugas di pos akan memberikan beberapa pertanyaan atau tantangan atau pengelanan sesuai dengan porsi pos nya masing-masing.

Tidak kalah semangatnya dari peserta, beberapa purna pun mengikuti pengenalan lingkungan. Kami tidak sepenuhnya mengikuti jejak yang dibuat panitia. Yang penting kami bisa tiba kembali ke lokasi perkemahan.:).

Mendaki gunung lewati lembah..

Sungai mengalir indah ke samudra..

Itu sih potongan lirik lagu Ninja Hatori. Beberapa perumahan warga, sekolahan, sungai, pesawahan dan banyak lagi kami lewati. Terik matahari tidak membuat kami menyerah untuk melanjutkan perjalanan. Kami berinisiatif untuk membuat pos sendiri. Akhirnya sebelum pos terakhir (Dewan Ambalan), kami membuat pos purna. Setiap sangga kami berhentikan dan disuruh berbaris. Dari 36 sangga yang ditanya mengenai pos ini, hanya 1 sangga yang bisa menjawab. Kebetulan bisa jawab he..he….:). Bahkan ada sangga yang menjawab pos fotograper. Mentang-mentang ada purna yang sedang foto-foto. Di pos ini, kami bertanya kepada peserta mengenai kesan selama perjalanan. Mereka curhat mengenai perjalanan yang ditempuh dan bagaimana sikap kakak bantara di pos.

Rangkaian acara terakhir dari Mata Cakap yaitu penerimaan tamu ambalan. Sebelum acara di mulai, peserta harus membereskan tendanya masing-masing. Setelah lapangan terlihat bersih, peserta dengan berseragam pramuka segera berbaris. Kakak Pembina berdiri di depan peserta. Perwakilan peserta memegang bendera dan peserta yang lain memegang pundak rekan terdekatnya. Mereka mengucapkan kembali Tri Satya yang diucapkan Kakak Pembina. Kemudian dilanjutkan dengan ucapan selamat kepada peserta.

Selamat dan sukses telah terselenggaranya Mata Cakap dan Kanira XII

4 thoughts on “Mata Cakap dan Kanira XXII Ambalan Adipati Singacala dan Citaresmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s